Belajar dari Kokkang

Terdorong oleh kegiatan Paguyuban Kartunis Yogyakarta (Pakyo) yang mengadakan pameran kartun nasional saat itu 1982. Odios (Darminto M. Sudarmo) bersama Itos Boedy Santosa. Keduanya kartunis, awalnya Odios mengetuk-tularkan pengetahuan teknik gambar kartun untuk media massa kepada Itos.

Hingga tiba pada suatu hari, ketika keduanya –Odios dan Itos—pergi ke kantor pos Kaliwungu, tiba-tiba terbersit gagasan untuk membuat perkumpulan sejenis Pakyo. Diajaklah Nurrochim. Maka lahirlah Komplotan Kartunis Kaliwungu. Kemudian pada 10 April 1982 diganti menjadi Kelompok Kartunis Kaliwungu. Basecamp ditetapkan di rumahnya Itos, yang hobi berorganisasi, terletak di Jalan Boja 106, Kaliwungu.

Menurut Itos, Kokkang didirikan sangat beralasan.
1) Awal tahun 1980-an media cetak memberi perhatian cukup besar terhadap sajian kartun.
2) Keterampilan mengartun lebih mudah diajarkan ketimbang menulis maupun melukis.
3) Honor kartun cukup menggiurkan dan prospeknya cukup menjanjikan.
4) Keempat, lingkungan Kaliwungu khususnya warga desa Krajan Kulon yang masih kental dengan budaya kebersamaan, kegotongroyongan, sangat potensial untuk pembentukan paguyuban.

Lain halnya dengan Odios, persepsinya sangat simpel.
“Motifnya ya senang-senang dan gagah-gagahan saja,” ujar Odios. Kokkang menjadi kelompok kartunis yang pertama di Jawa Tengah.

Untuk menandai deklarasi, maka diselenggarakan pameran kartun di Pendopo Kawedanan Kaliwungu, yang dibuka oleh Jaya Suprana dan Dr. Soewondo PS Art dari Perhimpunan Pencinta Humor, Semarang. Dari sini Jaya Suprana berkelakar, “Ibukota Jawa Tengah sebenarnya bukan Semarang, tapi Kaliwungu,” kata Jaya Suprana. Pameran karya Itos dan Odios itu juga merupakan upaya untuk menarik minat anak-anak muda. Kartun dengan style gag cartoon atau gaya coretan sederhana begitu juga tekniknya.

Benar saja, pameran itu berhasil menarik perhatian para pemuda, yang sebagian besar anak muda putus sekolah. Bergabunglah mereka sebagai anggota Kokkang. Semakin hebatnya, ketika media cetak antusiasme-nya tinggi untuk melibatkan para kartunis muda. Maka ruang untuk kartun melebar, dan menjadi tantangan yang perlu disikapi secara profesional.
“Sekaligus menjawab tantangan kesulitan tenaga kerja,” kata Itos.

Mereka dituntut untuk terus memantau informasi kekinian. Sehingga setiap Sabtu dan Minggu, mereka membahas berita-berita –ingat! Tanpa internet: twitter, facebook, aggregator: rss feed portal berita dsb. Mereka berupaya aktual sambil mempertajam keterampilan membuat kartun, terutama bagi anggota baru. Jika ada kesulitan mereka berkonsultasi dengan seniornya.
“Istilahnya kami menyediakan air; mau diminum, mau dipakai mandi, mau buat cuci muka, terserah, selama itu bermanfaat dan tidak buat mengguyur orang lewat,” kata Odios.

Anggota Kokkang yang kecil kini berubah drastis, melebar hingga di tiga desa: Krajan Kulon, Kutoharjo dan Sarirejo, bahkan melebar ke desa lain, hingga ke luar Kaliwungu. Penyebabnya bisa mulut ke mulut keluarga maupun pergaulan.

Konon kabarnya, Itos mengkader kemampuannya langsung kepada adik-adiknya: Pujo Waluyo, Budi Setyo Widodo, dan Budi Mulat Purnomo. Dalam pergaulan, Itos memberikan keahlian kartunnya ke tetangga di kampung, Muhammad Nasir. Nasir rupanya cepat belajar hingga berhasil berkreasi sampai dimuat di media cetak, singkat cerita Nasir mengajak saudara-saudaranya: Najib (kakak), Azis (adik), Nazar (keponakan) dan seterusnya. Roda kaderisasi ini terus bergulir, dan memunculkan banyak kartunis baru, baik sebagai hobi maupun profesi.

Dengan waktu yang sudah terjadual, pertemuan-pertemuan dan kursus-kursus pun rutin digelar. Beberapa materi yang diberikan oleh Kokkang:
1) Memberi pembekalan prinsip-prinsip kesenirupaan,
2) Tips mengenal media,
3) Tips pendalaman filosofi,
4) Hal-hal teknis semacam penggunaan tinta,
5) Pengenalan karakter kertas dan
6) Penggalian ide.

Pelajaran yang unik dari Itos:
“Saya senantiasa mengajarkan filosofi orang berak kepada semua kartunis di sini. Menggambar, lalu kirimkan…. ya sudah, nggak usah dinanti. Honor? Itu nanti! Itu kan akibat. Yang penting prosesnya, berkarya. Agar tidak kaget saat ditolak. Ditolak menjadi sesuatu yang biasa,” tegas Itos.

Masalah panutan merupakan hal yang wajar dalam paguyuban. Pada umumnya, kartunis junior akan terpengaruh kartunis senior atau satu generasi di atasnya. Walaupun pada akhirnya mereka akan menemukan ciri khasnya. Ciri visual kartunis Kokkang biasanya bermata lebar dan berhidung besar.
“Prinsip saya tidak ada hal baru di bawah mentari. Maka masalah pengaruh adalah hal yang manusiawi. Saya pun terpengaruh, terutama oleh Subro, Johny Hidayat AR dan lain-lain. Namun, masalah teknis saya tetap berjuang dengan ciri khas saya,” kata Odios.

Sekarang sudah dipastikan, para kartunis muda bermunculan, mewarnai media cetak di tanah air. Menurut Kokkang Majalah Intisari adalah media cetak yang sangat lama menyediakan ruang untuk kreatifitas kartunis.
“Intisari adalah media paling lama menyediakan kolom kartun, beroplah besar, paling eksis dan memberi penghargaan paling tinggi.” ujar Itos.

Bicara Kokkang sepertinya tak akan pernah berakhir. Selalu ada kartunis baru yang lahir. 🙂

Hikmah atau pelajaran yang dapat dipetik:

  1. Solidaritas yang kuat lahir dari berbagi; pikiran maupun tenaga.
  2. Takkan habis ilmu dibagi, bahkan akan semakin bertambah.
  3. Jangan pernah berhenti untuk mencari ilmu.
  4. Terus menggali potensi setiap hari.
  5. Budayakan getuk-tular dalam membagi ilmu.
  6. Berkarya dengan tulus.

*Ini Sticky Post (artikel terbaru di bawahnya)

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp[]

Iklan

Tentang bf

blogaforeva, maksudnya nge-blog terus jangan pernah bosan. Seperti memiliki istri, punya blog lebih dari satu :mrgreen: What?! ©2011
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

46 Balasan ke Belajar dari Kokkang

  1. Shohibul K.U.C.B berkata:

    Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam K.U.C.B
    Artikel anda akan segera di catat
    Salam hangat dari Markas New BlogCamp di Surabaya

  2. ibnu berkata:

    buat kompetisi ya? saya do’akan mudah-mudahan artikel ini sukses

  3. nchie berkata:

    halo,kunjungan pertama salam kenal yah..
    Senengnya bisa menggambar kartun,mau donk ikutan hhe
    Tapi aku ga bisa menggambar,susah yah ternyata,paling jelek deh kalo nilai menggambar,apalagi menggambar kartun hihih…
    sukses deh kontesnya..

    salam

  4. kang ian dot com berkata:

    hrus tetap berbagi ilmu karena dengan berbagi justru akan terus bertambah berkah ilmu kita sukses ya salam kenal

  5. Pencerah berkata:

    mangtafff
    semoga sukses

  6. john berkata:

    apa ga masalah blog wordpress diikutkan kontes?
    nanti kalo ketahuan ID nya sama blog nya di banned loh mas 🙂

  7. lozz akbar berkata:

    wah Mas Ade ternyata ya.. saya kira siapa pake Id AST..
    enggak pingin bikin blog dengan posting kartun semua nih

  8. Gaphe berkata:

    Semoga berhasil.. hikmahnya sampe ditulis banyak gitu

  9. Necky berkata:

    kunjungan balik mas…..selamat mengikuti kompetisinya….semoga berhasil….saya mau ikutan juga tadinya tapi belum ada ide nulisnya tuh….

  10. Sugito Kronjot berkata:

    bner Kang…

    ilmu kita berkembang trun tmurun, shingga pngaruh senior psti ada, sama halnya dngan kartun tadi.

    slam knal kang dari mBanyumas….

  11. yusuf berkata:

    semoga sukses kompetisinya,

  12. eser berkata:

    Oh artikel kontes ya, semoga beruntung bro…
    Btw saya sendiri penggemar gambar-gambar kartun, tapi sayang saya ngga mahir gambar kartun…

  13. mamung berkata:

    selamat ya kang, masuk 30 nominasi blogger for safety riding..
    waah ini lagi kontes juga ya, yaa mudah2an sukses lagi kang.. 😀

  14. abdurrohim berkata:

    apalagi dengan mengajarakan ilmu yang bermanfaat… maka akan makin bertambah…penuh imajinasi.. terimakasih… bales kunjungan ya kang

  15. usagi berkata:

    Tapi ini beneran ada kan mas ya komunitasnya
    Aku juga suka kartun
    Terutama beni&mice

    Suka sama quote yg bilang
    ” Takkan pernah habis ilmu dibagi”

  16. faruq berkata:

    siip dan sukses,.

  17. Ade Truna berkata:

    bang aswi, faruq…thx 🙂

  18. gusrohman berkata:

    amien, semoga tetep disiplin waktune om…

  19. Goda-Gado berkata:

    sampeyan bagian dr komunitas kokkang juga kah mas???
    Wow, dr satu dua orang bs berkembang ke antar desa..
    Boja, sy punya seorang temen disana.
    btw, klo sampeyan seorang kartunis, ikutan acaranya Tribute To Pepeng bberapa bulan silam yg sampai nyetak rekor Muri itu nggak mas???
    Ikutan hadir di Mtero juga kah? (Kick Andy)

  20. bundamahes berkata:

    baru tau kalo si Om juga punya blog disini 🙂

  21. genksukasuka berkata:

    aku blajar dari siapa yah…..?

  22. ysalma berkata:

    menggali potensi diri,, masih bertanya-tanya bih Pak,,
    semoga meang di KUCBnya Pak..

  23. Erdien berkata:

    Saya mo belajar juga ah 😀

  24. Reza Saputra berkata:

    semoga sukses dengan kontesnya gan 😀

  25. adetruna berkata:

    makasih reza…

  26. Erdien berkata:

    Blm ada lagi yang baru neh 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s